kabarNEWS
Opini

Sudah Layak kah Kenaikan BBM ?

KenaikanBBMAkhirnya, apa yang ditakuti banyak rakyat sebagai momok musuh terbesar dalam kelangsungan hidup mereka terjawab sudah. Dimana, sebuah kebijakan Pemerintah untuk menghapus subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang berimplikasi pada sebuah kenaikan harga merupakan kebijakan yang membuat rakyat memaksa, siap atau tidak siap, untuk semakin menderita. Dan dari pandangan beberapa kalangan pengamat perekonomian di Indonesia, kebijakan itu jelas akan menambah beban rakyat miskin , tidak hanya sebesar 8 persen, tapi bahkan bisa mencapai 50 sampai dengan 70 persen.

Karena, secara substansial kenaikan harga BBM yang sekarang ini direncanakan, merupakan pilihan yang memaksa. Bagaimana tidak, lihat dampak buruk nanti yang akan terjadi. Selain semua harga pangan pokok dan juga harga harga lainya jelas akan ikut terdongkrak kenaikanya mengingat roda perekonomian selama ini yang paling utama dalam dari unsur BBM, juga bisa semakin menambah derita pengangguran menjadi naik. Karena, seperti pabrik, industri home atau usaha usaha dari beberapa kalangan akan mengeluhkan kenaikan bahan bahan sedangkan hasilnya belum tentu bisa menutup kekuranganya. Maka, jika sudah begini pastilah pemberhentian pekerja atau pengurangan pegawai jelas jadi sasara utama. Nah, jika pengangguran semakin naik, yang terjadi selanjutnya jelas angka kriminalitas semakin tinggi. Mulai dari kejahatan perampokan, penipuan serta pencurian akan menambah daftar semakin menderitanya negara ini. Karena, demi melangsungkan kehidupan mereka, banyak rakyat rakyat akan menghalalkan segala cara. Lalu, sudah siapkan negara menambah personel para penegak hukum seperti dari kepolisian untuk menanganinya, sudah siapkan dari negara untuk menambah pula rumah tahanan jika ini benar benar terjadi nantinya, sudah siapkah ?
Rasanya sangat mustahil untuk menyiapkan segalanya dalam sekejap mata.
Sebenarnya masih ada banyak cara yang bisa dilakukan Pemerintah untuk menutup difisit anggaran, selain dengan menghapus subsidi BBM. Memang Pemerintah saat ini seringkali mengalami kebocoran anggaran sekitar 30 persen setiap per tahunnya. Seandainya, 10 persen saja bisa diselamatkan, mungkin Pemerintah tidak perlu menghapus subsidi BBM, karena dampaknya juga akan semakin bertambah kekacauan.
Memang, Pemerintah akan mengirimkan Bantuan Langsung Tunai atau yang biasa disebut BLT yang dijanjikan Pemerintah untuk rakyat miskin, namun saya pikir semua juga hanya akan sia-sia. Karena, BLT itu sifatnya sementara, sedangkan rakyat memikirkan kelangsungan hidup yang harus dijalaninya dari hari ke hari. Saya pikir, BLT tidak akan mampu menggantikan dampak yang terjadi pada masyarakat baik langsung atau pun tidak langsung, khususnya pada masyarakat miskin karena, perjalanan hidup terus berjalan.
Namun, apa mau dikata. Semua sudah diputuskan dan mau tidak mau, kita semua harus menjalaninya. Dan sekali lagi, nampaknya rakyat kecil menjadi korban dari sebuah keputusan yang mengatasnamakan kebijakan dari Pemerintah, yang saya pikir terlalu tergesa gesa.

Penulis : Aland, arsip

About alandfatah

Low profile and Ordinary people

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Maret 2012
S S R K J S M
« Feb    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 1,104 hits
%d blogger menyukai ini: